PARTANGIANGAN 13 OKTOBER

Horas tondi madingin pir tondi matogu.

Adapun maksud dan Tujuan diadakannya Perayaan/Partangiangan setiap tahunnya pada tanggal 13 Oktober oleh seluruh Pomparan Ni Ompunta Borsak Mangatasi Nababan bukanlah sekedar hanya berkumpul makan bersama atau bersuka-ria belaka tetapi dibalik itu ada hal dan arti yang perlu kita simak dan renungkan bersama. Untuk itu, kita semua perlu diajak sebentar menoleh kebelakang dan setelah itu bersama-sama melihat kedepan serta melangkah dengan derap langkah maju disertai keyakinan dan tekad serta berjanji dalam diri untuk melestarikan dan melaksanakan secara murni arti Partangiangan 13 Oktober itu.

Saudara-saudaraku seluruh Pomparan Ni Ompunta Borsak Mangatasi Nababan dari anak-anak, para remaja dan muda-mudi, para orang tua serta boru dan bere. Mungkin diantara kita masih banyak yang bertanya-tanya terutama pada tingkat anak-anak, remaja dan muda-mudi, bahkan juga dari tingkat berpredikat sarjana dan para orang tua (Ibu-ibu dan Bapak-Bapak) yang mana pertanyaannya secara garis besar dapat dirangkum sebagai berikut :

1. Mengapa marga Nababan mengadakan perayaan pada bulan Oktober, mengapa tidak seperti marga-marga lainnya yang lazim mengadakan perayaan pada awal tahun (tahun baru).

2. Mengherankan, mengapa pula memilih dan menetapkan perayaan itu tanggal 13, dimana angka 13 tersebut dalam keyakinan maupun kepercayaan banyak orang, baik orang dan orang Timur mengatakan bahwa angka 13 tersebut adalah angka sial dan angka celaka. Maka itu pula, seiring orang menyebut dalam suatu musibah mengucapkan “Celaka 13”.

Kedua pertanyaan tersebut diatas adalah lumrah bagi mereka yang belum mengetahui arti dan sejarah terjadinya awal Partangiangan 13 Oktober 1955 di Bona Pasogit Siborong-borong. Maka dalam kesempatan ini saya akan mencoba memberikan penjelasan apa yang saya ketahui dan kiranya sebahagian dari kedua pertanyaan di atas itu dapat terjawab dan dapat pula sedikitnya mengerti oleh yang menanyakan.

Penjelasan saya ini hanya sekedar saja, karena saya juga mengakui tidak mengetahui secara menyeluruh. Oleh karena itu, apabila ada diantara penjelasan-penjelasan yang saya uraikan disini kurang mengena, saya mohon maaf dan apabila ada diantara kita yang mungkin lebih mengetahui, mohon agar ditambahkan dan hendaknya bersedia melengkapi secara tertulis serta menyalurkannya melalui pengurus Punguan Borsak Mangatasi untuk menambah perbendaharaan Borsak Mangatasi Nababan se-Jabodetabek.

Saudara-saudaraku yang saya cintai,

Kiranya kita semua telah mengetahui bahwa Partangiangan 13 Oktober dimulai di Bona Pasogit Siborongborong pada tanggal 13 Oktober 1955 dan hingga sekarang ini telah berusia 55 tahun. Dasar apa dan untuk apa partangiangan itu tercipta pada tahun 1955?

Pada mulanya ada beberapa orang tua kita yang tinggal di Bona Pasogit yang hatinya resah dan sedih merenungkan keadaan dari keturunan “Pomparan Ni Ompunta Borsak Mangatasi Nababan“ dengan melihat dan menatap ke sekitar, umumnya terhadap marga-marga yang lain, dimana kita Pomparan Ni Ompunta Mangatasi Nababan sudah jauh ketinggalan dari mereka baik dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam bidang pendidikan. Maka terdorong oleh keadaan dan penuh kepercayaan iman terhadap Tuhan Yang Maha Pengasih, terketuklah hati dan jiwa mereka serta menoleh kebelakang merenungkan sejarah dari nenek moyang kita Borsak Mangatasi Nababan secara turun-temurun dilanjutkan  dari Ompunta Siantar julu, Siantar Jae, Sisogosogo, Ompu Domi Raja sampai kepada Ompu Sandar Nagodang dan Tuan Sirumonggur adalah manusia yang gagah perkasa, Datubolon dan Raja Parhata yang berani. Namun hal itu bukan berarti mampu meningkatkan tarap hidup sebagaimana harapan setiap orang.

Seperti yang saya sebutkan diatas tadi, karena terdorong oleh iman dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, para orang tua kita itu berpikir dan dalam hati mengatakan : Alangkah baiknya kami menyerahkan apa yang kami resahkan dan pikirkan ini kepada Tuhan, sekiranya ada kesalahan dan dosa-dosa yang dipebuat oleh nenek moyang kita dahulu kiranya Tuhan mengampuni dan kiranya Tuhan jangan menangungkan akibatnya kepada keturunannya.

Sepenggal kalimat itulah yang menjadi suatu dasar evaluasi bagi para nenek kita terdahulu. Perlu juga kita ketahui bersama bahwa sebelum 13 Oktober 1955, diantara kita Nababan bersaudara khususnya yang di Bona Pasogit, tidak terdapat kesatuan dan persatuan dimana antara pihak satu dengan pihak yang lain selalu saja bertikai dan bermusuhan. Mungkin diantara kita masih ada yang mengetahui bahwa akibat dari pertikaian dan permusuhan kedua belah pihak ada sebutan pada marga Nababan saat itu yaitu: NABABAN DOLOK – NABABAN TORUAN. Situasi dan keadaan tersebut termasuk keresahan yang menjadi pemikiran para orangtua kita itu. Semula pemikiran-pemikiran dan pembicaraan menenai hal ini hanya dibicarakan 1 sampai 3 orang secara iseng saja yang merupakan obrolan-obrolan dikedai (lapo) dan lain tempat, tetapi lama kelamaan berkembang menjadi pembicaraan yang lebih luas serta mendalam. Akhirnya disertai semangat, tekad dan berlandaskan kepercayaan kepada Tuhan, maka terciptakan suatu kesepakatan dan pemufakatan pada tahun 1955 itu.

Sebelum tanggal 13 Oktober 1955, mereka mengumpulkan beberapa orang tua secara resmi dangan singkat kata dalam pertemuan itu mereka membuat suatu keputusan, menyepakati suatu rumusan yang baik yang akan mereka tempuh dan dilaksanakan yang selalu berdasarkan iman kepercayaan  kepada Tuhan berlandaskan Agama dan Alkitab.

Akhirnya mereka menetapkan suatu keputusan sebagai berikut:

Tanggal 13 Oktober 1955, ditetapkan waktu mengadakan Partangiangan (Hari Doa) untuk seluruh Pomparan Ni Ompunta Borsak Mangatasi Nababan dimana pun mereka berada. Dan untuk perayaan pertama kalinya yaitu tanggal 13 Oktober 1955 dipusatkan di Bona Pasogit Siborong-borong dengan mengundang seluruh Pomparan Ni Ompunta Borsak Mangatasi termasuk yang berada diperantauan untuk turut menghadirinya. Tempat Partangiangan ditetapkan di pasar (onan) Siborong-borong dan didahului dengan kebaktian bersama yang langsung dipimpin oleh Ompui Ephorus HKBP, yang pada saat itu adalah Ephorus Dr. J.Sihombing (Almarhum). Usai kebaktian diadakan pesta makan bersama yang mana pesta tersebut dihadiri juga oleh semua Pomparan Ni Ompunta Toga Sihombing (Silaban, Lumbantoruan dan Hutasoit) serta mengundang Hula-Hula Borsak Mangatasi, sebagian dari hula-hula keturunannya dan sebagian lagi dari Pengetua-Pengetua marga sekitarnya. Pesta yang dilaksanakan adalah PESTA HORJA dengan memotong sigagat-duhut (horbo-kerbau).

Mulai saat itu,

1. Semua Pomparan Ni Ompunta Borsak Mangatasi Nababan bersatu padu dan ber-IKRAR bahwa semua Pomparan Ni Ompunta Borsak Mangatasi tidak boleh lagi menyebut-nyebut : Nababan Dolok – Nababan Toruan.

2. Terbentuklah Persatuan Nababan, Boru dan Bere yang diberi nama KESATUAN KETURUNAN BORSAK MANGATASI/NABABAN dengan kepengurusan /sekretariat berpusat di Lumban Tonga-tonga Siborong-borong Kabupaten Tapanuli Utara propinsi Sumatera Utara dengan kegiatan pertama untuk menata pendaftaran semua keturunan Borsak Mangatasi dimana saja mereka berada (Bona Pasogit & Perantauan). Untuk diketahui penulis telah tercatat dalam daftar Anggota tahun 1955 yang terdaftar pada kartu anggota nomor 1126.

3. Diingatkan kepada semua keturunan Borsak Mangatasi Nababan, Boru dan Bere dimana saja mereka berada, baik berkelompok maupun hanya sekeluarga bahkan seorang-diri pun, dianjurkan agar setiap tanggal 13 Oktober harus mengadakan Partangiangan sekaligus mengenang hari yang bersejarah itu ditengah-tengah Nababan dengan pesan:

Berdasarkan isi Alkitab yan tertulis pada:

a) Ulangan 30,11

b) Philipi 2,3

c) Galatia 4,6

dan merenungkannya, menghayati serta melaksanakan kata-kata ayat ini ditengah-tengah Nababan. Agar semua Anggota membaca isi ayat ini dalam Alkitab karena sengaja tidak menuliskannya di lembaran ini berhubung memakan tempat, namun di anjurkan agar membaca sendiri.

Sekarang kembali kita kepada pertanyaan-pertanyaan yang mungkin ada pada kita seperti kedua pertanyaan yang tertera di depan akan kita coba menjawab sekelumit pertanyaan-pertanyaan yang ada pada pikiran kita.

Mengapa diadakan perayaan tanggal 13 dan bulan 10 (Oktober)?

Perlu kita ketahui bahwa tangal dan bulan tersebut adalah mempunyai makna dan arti bagi Nababan yang perlu kita ketahui sekaligus untuk mengetuk hati dan membangun pikiran kita untuk mengenang sejarah kehidupan marga Nababan pada masa-masa yang lampau. Maka tanggal dan bulan tersebut adalah kesepakatan bersama dari pencetus hari bersejarah itu.

Tanya : Angka 13 lazim disebut orang angka sial dan celaka.

Jawab : Benar. Mereka itu juga tahu.

Kalau begitu apa yang dimaksud oleh Pencetus? Agar semua marga Nababan mengetahui bahwa sampai dengan tahun 1955 marga kita Nababan merasa dalam sial.

Mengapa? Karena sampai dengan tahun 1955 seperti yang telah diuraikan diatas tadi kehidupan marga Nababan terutama pada bidang pendidikan dan pengetahuan sangat ketinggalan dari marga-marga lain. Semua marga Nababan bangun dari tidurnya bersama-sama berusaha merubah kesialan ini.

Maka dengan dorongan perasaan sial ini, mereka bersama-sama merubah kesialan ini menjadi sepakat menempuh perubahan pola kehidupan cara berpikir dengan merendahkan hati memohon kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang agar Dia berkenan merubah nasib semua marga Nababan, boru dan bere di manapun berada.

Mengapa bulan 10 (Oktober)?

Dengan harapan berkat dari Tuhan, nasib kesialan marga Nababan menuju angka ke 10 dimana angka tersebut adalah angka nilai tertinggi pada raport di sekolah. Perlu kami tambahkan untuk kita perhatikan bersama terutama kepada semua Pengurus Borsak Mangatasi Nababan bahwa lambang/logo Nababan yang ditetapkan pada tahun 1955 adalah lambang/logo Bintang Segi Lima dan sekelilingnya pancaran sinar, melambangkan kiranya kelak marga Nababan menjadi bintang-bintang yang memancarkan cahayanya pada marga Nababan khususnya dan pada umumnya.

Kesimpulan arti : Angka 13 dari sial menjadi juara dengan memperoleh angka 10 dan setelah juara menjadi bintang yang memancarkan cahaya.

Apa makna dan hasil marga Nababan  setelah tanggal 13 Oktober 1955?

Kalau kita betul-betul memperhatikan semua penjelasan-penjelasan diatas kiranya kita semua telah memperoleh jawabannya. Namun untuk memperjelas jawaban yang ada pada diri kita, perlu kami perjelas bahwa keadaan marga Nababan terutama pada bidang pendidikan/pengetahuan sampai tahun 1955 keturunan marga Nababan hanya menduduki pendidikan tertinggi setingkat SLTA saja. Dan sekiranya ada diantara keturunan marga Nababan memasuki perguruan tinggi selalu mengalami bermacam-macam kegagalan yang mana kurang etis diuraikan disini.

Namun, sesudah marga Nababan bertekad seiya-sekata dirangkum kesatuan dan persatuan berdasarkan iman mohon dengan Doa bersama pada tanggal 13 Oktober 1955, Tuhan mendengar dan bahkan tidak hanya mendengar tetapi Dia menerima Doa kita yang tulus itu dengan pemberian berkatNya karena setelah tahun 1955 Tuhan mulai meluluskan doa permohonan keturunan marga Nababan untuk pertama kalinya telah lulus seorang putra Nababan dari perguruan Tinggi dan title yang diterimanya adalah title yang tertinggi dan termahal marga Nababan yaitu Sarjana Theology yang disandang Dr. S.A.E Nababan dan saya yakin semua kita mengenal dan bahkan dunia juga mengenalnya karena ia adalah pekerja Tuhan dalam ladangNya. Hal ini sesuai dasar Partangiangan kita tanggal 13 Oktober 1955 yakni berdasarkan iman kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.

Bagaimana arti dan makna Partangiangan 13 Oktober bagi kita semua pada saat itu?

Kiranya semua menjawab spontan : Puji dan syukur kepada Tuhan. Sudah sekian banyak sekarang ini sarjana-sarjana marga Nababan, Boru dan Bere. Sudah sekian banyak pula marga Nababan yang menerima berkat dalam kehidupan sehari-hari. Kita semua harus mensyukurinya dengan tidak lupa memohon kepadaNya tentu dengan kerendahan hati selalu, agar menambah berkatNya dihari-hari yang akan datang sesuai dengan kehendakNya.

Kepada para generasi penerus, penulis dan para Orang tua memesankan :

1. Bersyukurlah dan rendah hati selalu dihadapan Tuhan seraya berterima kasih kepadaNya, kepada Orang tua dan juga kepada orang tua pencetus terdahulu yang mana diantara mereka sudah banyak meninggalkan kita sehingga mereka tidak sempat melihat dan merasakan hasil dari doa permohonannya.

2. Bahwa kesatuan dan menyatukan Nababan pada tanggal 13 Oktober 1955 itu adalah suatu janji/ikrar bersama semua keturunan marga Nababan kepada Tuhan Yanng Maha Kuasa agar berikrar untuk melestarikan dan melaksanakan tanpa pamrih.

3. Agar semua generasi muda/generasi penerus menghargai sejarah,  Siapa yang mengabaikan dan tidak menghargai sejarah, suatu saat ia bisa tergilas oleh sejarah.

Demikianlah penjelasan singkat yang saya uraikan ini dapat kita pahami. Andai kata terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati mohon di maklumi, karena saya (penulis) mengakui bukanlah seorang yang menguasai seluruhnya. Uraian dan penjelasan yang saya uraikan di sini adalah yang saya kutip dari hasil obrolan-obrolan saya dangan beberapa Orang tua yang berada di perantauan maupun yang berada di Bona Pasogit.

Selamat merayakan Pesta Partangiangan 13 Oktober. Kiranya Tuhan selalu beserta kita.

Horas !!!!!

Seruan kami terutama kepada para generasi penerus:

Ketahuilah, hargai dan lestarikan leluhurmu, terutama menyangkut arti dan latar belakang diadakannya Partangiangan 13 Oktober setiap tahun.

Ditulis oleh:

St. O.Nababan

(Ketua Dewan Penasehat PORMAMBE JABOTABED tgl . 13 Oktober 1994)

7 thoughts on “PARTANGIANGAN 13 OKTOBER

  1. Cerita tersebut di atas secara ringkas sesuai dengan yg diceritakan oleh Ayah saya. Ayah saya dulu ikut ke Siborong-borong pada tanggal 13 Oktober 1955, berangkat dari Sidikalang kabupaten Dairi. Rumah kami dulu selalu menjadi tempat berkumpulnya para saudara marga Nababan ini untuk melaksanakan partangiangan tersebut setiap tanggal 13 Oktober. Bahkan setelah pindah ke Toba-Satu, Gempolan, Kec. S.Rampah, Deli Serdang, rumah orang tua saya juga selalu digunakan untuk acara partangiangan 13 Oktober.

    Ada baiknya dianjurkan juga agar Nyanyian marga Nababan dinyanyikan pada acara partangiangan tersebut, sebab dalam beberapa kali saya ikuti acara ini, lagu tersebut tidak lagi dinyanyikan.
    Lagu disamakan dengan yg di Buku Ende HKBP : “Sai Hehe Ma Hamnuna” (ada 3 bait(ayat)) :

    Tubu di Tano Tipang do Marga Nababan
    Gabe ditumpak Tuhan rarat ma tu Humbang
    Ari sampulu tolu bulan sampulu i
    Pungu mangido ngolu tu Tuhan Jesus i
    Hamu angka donganku hamu Nababan i
    Pahombar ma langkamu lomo ni Tuhan i
    Padao ginjang ni roha sai tiop burjumi
    Asa denggan martua uli tinujumi
    dst…. (tolong dilengkapi yaa)

    Ada 1 lagi pesan secara khusus dari para tetua Nababan kepada generasi penerus :
    Jauhkan diri dari “tinggi hati” atau sifat “sombong”
    Hal ini konon karena di zaman dulu.. banyak di antara nenek moyang Nababan yang merupakan “datuk sakti” dan berperangai “sesat”(jika ditinjau dari sudut kekristenan), sehinga menjadi congkak/sombong.

    Semoga berguna
    Horas ma ate !

    Salam hormat buat ompung St. O. Nababan 🙂
    selalu ketemu beliau di setiap pesta marga Nababan.

    Saya
    Nama : Naek Nababan Drs. (A. Erna)
    Usia : 52 tahun (lahir 15 Mei 1958)
    Generasi : no 20
    Nama ompu : Datu Pamona Mangambit Tuan Naiborngin Nababan (generasi ke 10, membuka pemukiman di Hite Tano, kec. Parsoburan, Balige)
    Isteri : Minurly Tampubolon Baringbing
    Anak : 1. Erna Hanamitsu Nababan SE (alumni akuntansi ABFI Perbanas)
    2. Josua Halomoan Nababan S.Si (alumni Farmasi ISTN, mhs Apoteker Unpad)
    3. Novita Nababan (mhs Akuntansi Untirta)
    Tempat tingal : Ciputat, Tangerang Selatan

    Silsilah ringkas :
    Borsak Mangatasi – Siantar Julu – Siantar Jae – Sisogosogo – Domi Raja – Tuan Sirumonggur – Siuraturat – Ompu Marbona – Ompu Lobi Nagasaribu – Datu Pamona Mangambit Tua Naiborngin (Hite Tano)

    catatan :
    Keturunan Nababan dari Hite Tano sudah ada sekitar 200 KK di Jabodetabed (tidak dimasukkan lagi Bere & Ibebere), selalu mengikuti partangianagn 13 Oktober, atau melakukan partangiangan di rumah masing-masing jika terpaksa tidak bisa ikut berkumpul di gedung pertemuan.

  2. Pemilihan tanggal 13 bulan Oktober tahun 1955 sebagai tanggal diselenggarakannya Partangiangan Bolon bagi Pomparan ni Borsak Mangatasi Nababan, Boru dohot Berena di Siborong-borong tidak ada kaitannya sama sekali dengan angka sial atau angka sakti, juga tidak ada kaitannya dengan angka 10 adalah angka raport tertinggi disekolah.Sangatlah naif kalau Sijabu-jabu, yang sangat beriman, sebagai penggagas Partangiangan Bolon itu sengaja memilih tanggal tersebut karena alasan tersebut di atas. Bahkan penentuan tanggal tersebut tidak dilakukan dengan ” MANITI ARI ” sebagai mana kebiasaan orang Batak sebelum datangnya Kekristenan. Pemilihan tanggal tersebut semata mata karena pada tanggal itu bisa dihadiri dan diikuti oleh bagian terbesar dari Pomparan Borsak Mangatasi,Boru dohot Berena, terutama kelompok ELITE-nya (yang berpendidikan, yang berjabatan dan “tua-tua ni huta”),sehingga partangiangan yang diselenggarakan itu benar benar dapat disebut PARTANGIANGAN BOLON. Seandainya pada tanggal 13 Oktober 1955 itu para ELITE maupun Pomparan Borsak Mangatasi Nababan, Boru dohot Berena pada umumnya berhalangan hadir, maka Sijabu-jabu dan para “tua-tua nihuta” tidak akan ragu ragu untuk menggesernya ke tanggal yang lain demi tercapainya PARTANGIANGAN BOLON sebagai wujud kesepakatan bersama bagi para pinompar ni Borsak Mangatasi untuk meninggalkan gaya hidup lama (yang dipenuhi oleh parbolat-bolatan,hadatuon,hasipelebeguon, late , teal , elat dll) menuju gaya hidup KEKRISTENAN. Oleh karena itu jangan kita jadikan Tanggal 13 Oktober sebagai hari yang SAKRAL, tetapi yang lebih penting adalah AGAR SELURUH PINOMPAR NI BORSAK MANGATASI, BORU DOHOT BERENA SEMAKIN HARI SEMAKIN PERCAYA DAN MENERAPKAN AJARAN DARI KRISTUS JESUS, BUKAN HANYA MENGASIHI SESAMA PINOMPAR NI BORSAK MANGATASI MELAINKAN MENGASIHI SESAMA MANUSIA. KIRANYA KASIH AKAN SENANTIASA TUMBUH DAN BERKEMBANG DALAM HIDUP SEGENAP POMPARAN NI BORSAK MANGATASI NABABAN ,BORU DOHOT BERENA DIMANAPUN MEREKA BERADA.

  3. Mauliate godang bah katua di informasimon, anggiat lam tu majuna nababan boru bere, asa songon suhat dirobean masitukkoltukol-tukkolan, songon lampak ni gaol masi amin-aminan, jala tusadana songon daion aek, horas marga Nababan.

  4. Nama : Aleknaek Martua Nababan
    Status : Mahasiswa Unpad ( FMIPA – Statistika)
    Nababan : Nababan 20.

    Sai horas ma hita saluhutna akka Pomparan Ni Ompunta Borsak Mangatasi Nababan Boru-Bere.

    Jujur setelah saya membaca artikel ini, pintu hati saya terketuk untuk ingin berbuat apa yang dipesankan oleh para leluhur kita..
    Semoga nababan semakin sukses..
    Akhir kata saya ucapkan terima kasih.
    GBU

  5. Terimakasih dan salut saya buat rekan-rekan pomparan yg telah menuliskan berbagai info ttg 13 Oktober atau ttg Borsak Managatasi Nababan Boru Bere, ttp saya sangat berharap agar info yg disajikan sebaiknya jangan ber-asumsi-asumsi/mereka-reka, atau berlogika-logika sebagaimana tulisan dasar diatas (St. O. Nababan), apalagi utk yg sifatnya noktah (dalil) sebab kita hrs menghindarkan para generasi muda yg akan membacanya menjadi bingung lalu apatis. Sebaiknya kita menggunakan literatur dasar yg ditulis pd waktu itu, atau yg ditulis oleh para pelaku sejarah itu sendiri agar lebih konkrit.
    Sebagaimana di negatifkan Robinson Nababan, ttp saya juga tdk sependapat dgn Robinson Nababan bhw waktu itu hanya karena diwaktu itulah para tokoh, cendekiawan dan tetua Nababan dpt berkumpul dgn jumlah yg banyak, bukan bermaksud mensakralkan Tgl. 13 Oktober sebagaimana di kemukakan Robinson, ttp setahu saya bahwa hari Rabu, 13 Oktober 1955 Pukul 12.00 WSU itu adalah waktu yg (ditetatapkan / disepakati)pd pertemuan bln Juli 1954 yg di sponsori Amang Theopulus Nababan (Si Jabu-jabu) dan bertempat di Lbn tongatonga (Jln. Sadar Siborongborong sekarang/Rumah Amang Theopulus Nababan), dan pada Partangiangan tgl 13 Oktober 1955 yg dihadiri sekitar 5000 Org itu jugalah disampaikan pesan yg hrs dituruti semua pomparan Borsak Mangatasi agar melalukan “Parningotan” partangiangan pd tgl. 13 Oktober setiap tahunnya.
    Tarutung, 14 Oktober 2010
    H. Nababan (Papa Daniel)
    Literatur :
    1. “Berita Asal Usul Borsak Mangatasi Nababan”
    by.St.L.A.Nababan (Op. Daniel).
    2. “Sejarah Ringkas ttg Partangiangan 13 Okt 1955”
    by.Drs.B.P. Nababan.
    Horas.
    Semoga bermanfaat.

  6. Horassssssssssssss Ito Patar…
    aku baru liat lho web ini… hehehehe… maaf yaaa…
    bagussss bgt lho ada web ini, aku bs liat artikel + komentar dari sodara2 lain yang melengkapinya, jadi aku makin tau ttg Nababan. 2thumbs Up to…

    Papaku udah memberitahuku ttg Silsilah Nababan dari kami(aku dan adik2ku) kecil, dan papa mengajarkan kami martarombo…papa selalu mengajak kami pulang tiap tahun dengan tujuan agar nanti saat kami sukses di kota/negri orang,kami tetap ingat kampung halaman kami berasal, dan papa juga berharap akan terus diturunkan hal seperti ini(bercerita ttg silsilah batak dan marga dan bagaimana ber’adat) ke cucu2nya nanti…
    dengan tujuan agar adat batak itu terus bertahan keasliannya… hehehe… I wish I could…

    oia, hampir lupa…
    Goar hu RIRIN F NABABAN.
    molo inna Papa’hu “molo disukkun halak ho Nababan no piga, sian dia, nababan aha ho, jawab da boru… Ho boru Nababan No.18, Sian Nagasaribu, Nababan ulang begu”….. hehehe🙂
    Saonari au kuliah dope, di Atmajaya Catholic University mambuat penjurusan di Akuntansi…
    Adong adekku 1 dohot Ibotoku 1.
    Si No.2 i Goarna DESSY K NABABAN, saonari Ibana pe kuliah dope di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, mambuat penjurusan di Kedokteran.
    Molo Ibotoku (siappudan nami) goarna PANDU W U NABABAN, molo ibana sikola dope di SMU 105 Jakarta…
    Tangiangkon ma akka Ito,Namboru,Uda… sude ma… tangiangkon asa malo-malo sude keturunan ni Nababan’on… asa sukses sude… amin…

    Au Boru ni
    Mayor Marlin Nababan, Nababan Ulangbegu No.17
    Oma hu Maslan Simamora, AmdKeb. Simamora Debataraja (nomor na lupa au…hehehe)

    sekian ma jolo sian au, asa marsitandaan hita sesama Nababan..
    Horassssss di hita sudeee… horaaasssssssssssss

    (Maaf ya klo bahasa batakku belepotan, tp itu aseli aku tau sendiri, tidak ada yg mengajarkannya saat aku menulis ini…hehehe… PROUD TO BE BATAK!)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s