Ketakutan Dan Kekhawatiran

Sebenarnya rasa takut itu adalah baik, itu adalah mekanisme pertahanan hidup yang wajar dan konstuktif. Bila kita menghadapi bahaya secara fisik atau psikologi, system alarm yang terbentuk di dalam berbunyi. Adrenalin berlomba dan menyentak pikiran dan tubuh untuk bereaksi.

Akan tetapi, kita kadang-kadang secara subjektif mengalami ketakutan tanpa memperdulikan keabsahan objektif dari eksistensi rasa takut kita. Kita bereaksi terhadap persepsi kita yang sudah bertumbuh tentang suatu situasi bukan terhadap situasi aktual. Beberapa orang telah meyakini untuk menghubungkan rasa takut dengan sifat pengecut. Tidaklah benar bila ada yang mengatakan ia tidak pernah merasa takut, dan itu tidaklah wajar. Tetapi kita hendaknya tidak didominasi oleh ketakutan-ketakutan kita. Sebagaimana Rudyard Kipling mengatakan,  “Keberanian tidaklah sama dengan tidak hadirnya rasa takut, ini adalah pengendalian rasa takut.” Dan penguasaan dalam hal ini dapat dipelajari oleh setiap orang.

Rasa takut itu negatif bila ini merupakan suatu respons yang sudah terbentuk dan tidak berhubungan dengan ancaman nyata apapun. Prasangka terhadap suatu bentuk ketakutan yang sudah terpelihara, dan ketakutan ini meskipun tidak mempunyai dasar pada kenyataannya dapat membuat kita cemas, tidak percaya, dan panik.

Ketakutan yang sudah melekat dan bertumbuh, jika kita membiarkan itu, akan sering membuat perhatian kita pada jalan hidup dan jalan meraih prestasi yang lebih konstruktif tidak terarah. Prasangka atau penilaian yang sudah terbentuk sebelumnya, begitulah kita dapat menyebutnya, membentuk rasa takut dalam diri kita yang mencegah kita agar tidak mencari tahu hal yang belum diketahui. Ini pasti mencegah kita untuk membuat perubahan dan bergerak maju serta menghalangi pertumbuhan kita.

Mengetahui kepada apa kita berpihak dan apa yang kita inginkan akan menjaga perhatian tetap pada jalur yang positif. Orang-orang yang tidak tahu dimana mereka berdiri atau kemana mereka ingin pergi, dalam satu pengertian adalah tidak aktif dan pikiran yang tidak aktif aktif membiarkan berkembang  kekhawatiran yang merupakan bentuk paling umum dari ketakutan.

Sebagian besar kehidupan kita sekarang ini tertekan akibat mengkhawatirkan apa yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Waktu selebihnya dihabiskan dengan rasa bersalah, tentang apa yang telah kita lakukan di masa lalu. Waktu luang yang tersisa pun dihabiskan untuk merasa khawatir tentang apa yang seharusnya atau tidak seharusnya kita lakukan dan merasa bersalah tentang apa yang dapat atau tidak dapat kita lakukan.

Tak ada waktu yang tersisa untuk menempuh kehidupan dengan penuh potensi. Apapun yang ingin kita lakukan, kita harus menundanya. Sering sekali kita mendapati diri merasa khawatir dan bertanya kepada diri sendiri, “Apa yang saya tunda dengan menghabiskan saat ini hanya untuk merasa khawatir? Mengapa tidak membuat daftar dari semua hal yang kita khawatirkan 6 bulan lalu?”. Mari kita lihat berapa banyak yang berlalu begitu saja dan apakah perasaan khawatir tadi produktif. Setiap dilema di masa depan sering berubah menjadi hal kecil atau bahkan menjadi rahmat yang terselubung bila itu tiba.

Iklan

Keunikan Dalam Kelimpahan Alam

Mengenali fakta yang penting diri kita itu unik sangatlah menentukan bagi proses mengetahui diri kita. Kemungkinan ada orang lain yang memiliki rias wajah biologis seperti kita terlalu tipis di dunia ini. Tetapi tak seorang pun memiliki sidik jari kita, gurat bibir kita, lekuk telinga atau sidik jari kaki kita. Para dokter telah memperlihatkan bahwa komposisi darah kita khas bagi kita.

Kita, pada kenyataanya adalah suatu individu istimewa dengan kapasitas untuk mencapai perkara-perkasa besar. Ini karena kita memiliki kemampuan untuk bernalar dan ini memisahkan kita dari bentuk-bentuk lain dari kehidupan. Telah dikatakan bahwa apapun yang tersembunyi dalam pikiran manusia itu dapat dicapai.

Kebanyakan dari kita tampak tidak sanggup memahami fakta bahwa kita ini merupakan kemuliaan dari karunia alam. Tidak ada batasan pada potensi kita untuk atau batas-batas bagi kesuksesan. Dalam setiap individu terdapat potensi dan itu menunggu untuk digunakan. Apakah kita ingat disekolah misalnya berpikir “bagaimana saya dapat melakukan itu?” kapan pun kita selalu diperintahkan untuk mempelajari suatu keterampilan baru.  Namun setiap kali, setelah mendorong diri kita, kita mendapati kita mempunyai kemampuan bahkan kita menikmatinya.

Sekali tercapai, kita tidak pernah lupa mengendarai sepeda. Kita mempunyai kemampuan. Namun kita harus benar-benar mengerahkan diri kita seperti seorang anak-anak menghadapi beberapa kali jatuh yang tak dapat dihindari. Rahasianya adalah bahwa potensi ini harus ditampilkan. Jika kita merasa tidak memadai dalam satu bidang tertentu, ini karena kita telah mengenakan batasan-batasan pada diri kita.

Para atlet mengerti bahwa ada kekuatan yang sesungguhnya dalam lingkaran yang kedua tetapi mereka harus menggunakan lingkaran pertama mereka sepenuhnya. Kita hanya membiarkan diri menutup cadangan manapun yang ada melalui suatu penolakan untuk menjalankan kekuatan pilihan kita. Jika kita tidak mengharapkan apa-apa, kita dengan demikian tidak akan memperoleh apa-apa.

Jika kita pergi ke mata air kehidupan dengan sebuah sendok teh bukan dengan sebuah tong, kita tidak mengerahkan cadangan kekuatan, imajinasi, visi, wawasan dan kreativitas bersamaan dengan bakat-bakat khusus, ketrampilan, dan kemampuan kita sendiri, dan alam akan begitu saja membawa pergi apa yang tidak kita gunakan.

Didalam kedalaman lautan terdapat ikan yang tidak membutuhkan penglihatan sehingga alam telah menyingkirkan mata mereka. Apapun yang tidak digunakan akan atrophia (terhenti pertumbuhannya), apapun yang digunakan akan menjadi lebih kuat, orang-orang yang bekerja dengan tangan mereka akan mendapati tangan mereka lecet-lecet, dan orang-orang yang bekerja dengan imajinasi serta kreativitas mereka akan mendapati bahwa gagasan akan mengalir lebih mudah.