ROTUA DEWI GUNA NABABAN

Tak mudah bangkit dari kegagalan. Tak gampang menerima kekalahan. Hanya Allah yang sanggup mengembalikan pengharapan yang hampir hilang.

Dewi Guna? Hmm, nama yang cukup familiar. Coba dengarkan lirik ini. Bila Kau yang membuka pintu, tak ada satu pun dapat menutupnya.. Siapa kira-kira yang terbayang di benak Anda? Seorang dara manis dengan nada-nada merdu. Itulah Rotua Dewi Guna Nababan (28).

Dewi, lahir di Tarutung, 13 Maret 1981. Setelah SMA, ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Ekonomi, Universitas Padjajaran, 1999. Lewat tiga album solonya, Inspiration (2005), TentangMu (2007), dan The Message (2008), ia dikenal sebagai penyanyi rohani kristen. Dewi juga sempat menjajal kemampuannya di ajang Indonesian Idol.

Meski sudah berusaha, perjuangan Dewi di Indonesian Idol ternyata harus berhenti di 30 besar. Baginya, itu bukan sebuah kegagalan. Ia menyebutnya proses yang selesai. “Dulu, waktu mau ikut Indonesian Idol, aku bilang ke Tuhan, kalau memang Tuhan mau aku kasih yang terbaik di sini, Tuhan yang bawa ke jenjang yang lebih tinggi.”

Jawaban Tuhan ternyata tidak sesuai harapan. Butuh kerendahan hati untuk menerima proses itu. Jika awalnya Dewi tak pernah kepikiran menjadi penyanyi rohani, sekarang ia yakin bahwa Tuhan sedang menggiringnya ke arah sana. “Aku percaya Tuhan sedang menyiapkan jalan yang lebih baik,” ucapnya.

Tak lama setelah menjadi finalis Indonesian Idol itu, berbagai undangan pelayanan datang. Ia juga diminta rekaman di beberapa album. Selain itu, album kedua, yang diproduseri sendiri, akhirnya diluncurkan. Indonesian Idol rupanya menjadi batu loncatan yang berharga.

Dewi mengaku belajar banyak dari hubungan. Butuh proses panjang untuk mengetahui maksud Tuhan atas hidup ini. Ternyata, ikut pelayanan bukan berarti Tuhan akan memudahkan segala cara.

Kegagalan Dewi dalam menjalin hubungan dengan seseorang sempat membuatnya heran. “Kenapa Tuhan tidak membelaku di bagian itu?” tanyanya. Tapi gadis yang hobi baca dan renang ini yakin bahwa ini proses yang harus dilalui untuk belajar menjadi kristen yang sejati. Ia menjadi lebih santai ketika banyak dukungan dari keluarga dan teman-teman.

“Sempat kecewa dan marah, tapi aku belajar untuk percaya dan beriman pada Tuhan. Sekarang udah ada calonnya. Setelah proses sejauh ini, aku percaya ia adalah orang spesial, he he he.”

“Ada satu kebenaran yang aku pegang. Terang akan bertambah terang. Gelap akan semakin gelap. Jadi, sampai akhir, hidup kita adalah perjuangan. Apakah kita akan setia atau nggak?” Dewi pun merespons kegelisahan itu, misalnya, melalui album yang diselesaikannya dengan penuh tanggung jawab. Sehingga jika suatu saat nanti Tuhan menjemput, ia sudah siap.

Saat ini, Dewi sedang menjalani banyak pelayanan di luar kota. Ia juga sedang belajar menjadi financial planner. Menyanyi tetap yang utama. Di waktu-waktu senggang, ia belajar melalui berbagai training.

Dalam pelayanan, ia tidak tanggung-tanggung. Hampir seluruh kota besar di Indonesia pernah dikunjungi, kecuali beberapa, seperti Aceh. Harapan ke depan, Dewi ingin punya album sendiri. Menulis lagu sendiri. Aransemen sendiri. Ia juga pernah terpikir untuk membuat album sekuler, hanya masih menunggu waktu yang tepat. “Aku tahu, aku punya kapasitas di sana, hanya saja jika Tuhan tidak memberi kesempatan, aku tidak akan memaksakan.”

Baiklah Dewi, segala perkara kita serahkan pada-Nya, Ia pasti akan selalu membela dan memelihara anak-anak-Nya.

Sumber: Majalah Bahana, November 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s